Nusavoxmedia.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (13/1/2026) menyerukan warga Iran untuk terus melakukan demonstrasi dan mengambil alih institusi negara di tengah tindakan keras aparat terhadap protes nasional.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menulis bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” tanpa menjelaskan bentuk bantuan tersebut. Ia juga mengatakan telah membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran sampai “pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal” dihentikan.
Saat ditanya apa yang dimaksud dengan bantuan, Trump menjawab bahwa publik “harus mencari tahu sendiri”, namun menegaskan bahwa tujuan akhirnya adalah kemenangan. Dalam wawancara terpisah dengan CBS News, Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan mengambil “tindakan yang sangat keras” jika Iran mengeksekusi demonstran. Trump mengatakan ia masih menunggu laporan intelijen dan akan “bertindak sesuai itu”.
Gedung Putih sebelumnya mengatakan opsi militer tetap terbuka untuk menghukum Iran atas tindakan keras tersebut, meskipun menegaskan diplomasi tetap menjadi opsi pertama. Departemen Luar Negeri AS juga mengeluarkan peringatan kepada warga negara AS untuk meninggalkan Iran di tengah meningkatnya risiko keamanan.
Sementara itu, Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan dan menyebut situasi saat ini sebagai upaya destabilisasi. Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menyebut Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai “pembunuh utama rakyat Iran”. Iran juga mengirim surat ke Dewan Keamanan PBB yang menuduh Washington mengancam kedaulatan negara.
Gelombang unjuk rasa yang dimulai pada 28 Desember dipicu anjloknya nilai mata uang nasional dan memburuknya kondisi ekonomi, kemudian berkembang menjadi tuntutan untuk menggulingkan pemerintahan ulama.
Kelompok HAM berbasis di AS Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan sedikitnya 2.003 orang tewas, termasuk 1.850 demonstran, sembilan anak, serta 135 aparat dan sembilan warga sipil non-protes. Lebih dari 16.000 orang ditahan. Televisi pemerintah Iran untuk pertama kalinya mengakui adanya korban jiwa, meski tidak merinci jumlahnya dan menyebut keterlambatan pengumuman terjadi karena kondisi jenazah yang rusak parah.
Di sisi lain, PBB mengatakan pembatasan komunikasi dan pemadaman internet menghambat aliran informasi meski jaringan telepon telah kembali pulih bertahap. Sementara itu, Holistic Resilience mengatakan layanan satelit Starlink telah mulai tersedia di Iran untuk memperluas akses informasi.
Di tengah tekanan domestik dan internasional, belum terlihat adanya keretakan di jajaran elite keamanan yang dapat mengancam kelangsungan sistem pemerintahan ulama yang berkuasa sejak Revolusi Islam 1979. Pemerintah menyebut sebagian tuntutan ekonomi demonstran sebagai hal yang sah, namun tetap menjalankan penindakan tegas.
Sebelumnya, Trump mengumumkan tarif impor 25 persen terhadap produk dari negara mana pun yang berbisnis dengan Iran, yang memicu kritik China sebagai salah satu pembeli utama minyak Iran. Analis memperingatkan bahwa setiap serangan AS berpotensi menciptakan kekosongan politik di Iran dan memunculkan skenario kekacauan internal.
Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan bahwa pemerintah Iran mungkin memasuki “hari-hari terakhirnya”, meski tidak menjelaskan dasar penilaiannya. Namun sejauh ini protes belum menunjukkan tanda-tanda perpecahan internal di tubuh keamanan Iran.

