Xi Jinping Tegaskan Dukungan China untuk Kemerdekaan Palestina di Tengah Konflik Gaza

Nusavoxmedia.id – Presiden China Xi Jinping kembali menegaskan dukungan penuh negaranya terhadap kemerdekaan Palestina di tengah eskalasi konflik di Gaza. Dalam pernyataan terbarunya, Xi Jinping menyerukan solusi dua negara sebagai jalan keluar dari krisis berkepanjangan. Sikap China ini memicu ketegangan dengan Israel, yang kini menghadapi penurunan kerja sama ekonomi dengan Beijing.

Dukungan China untuk Palestina

Xi Jinping menegaskan bahwa ketidakadilan terhadap rakyat Palestina tidak boleh terus berlanjut. Ia menyerukan pembentukan negara Palestina yang berdaulat, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota, berdasarkan garis perbatasan 1967. Xi Jinping juga mendorong keanggotaan penuh Palestina di PBB, sebuah langkah yang telah lama didukung China.

Langkah ini bukan yang pertama. Sejak 2013, Xi Jinping secara konsisten menyuarakan dukungan untuk Palestina. Pada tahun 2024, China berhasil memediasi perjanjian rekonsiliasi antara faksi Hamas dan Fatah di Beijing, menunjukkan ambisi Beijing sebagai penengah di Timur Tengah. Namun, langkah ini juga menuai kritik dari Israel, yang menilai China berpihak dan tidak netral.

Konflik Gaza yang kian memanas menjadi latar belakang pernyataan Xi. Hingga 15 Mei 2025, serangan Israel di Gaza diperkirakan telah menewaskan lebih dari 50.000 warga Palestina sejak Oktober 2023, berdasarkan tren eskalasi konflik, dengan 85% penduduk Gaza kehilangan tempat tinggal, menurut data PBB. Di tengah blokade Israel, warga Gaza menghadapi kelaparan dan krisis kemanusiaan yang parah.

Dampak Ekonomi bagi Israel

Sikap China ini membawa dampak signifikan bagi Israel. Sebelumnya, China merupakan mitra dagang besar Israel setelah AS, dengan volume perdagangan yang signifikan. Namun, sejak China memperkuat dukungan untuk Palestina, hubungan ekonomi China-Israel memburuk, dengan penurunan kerja sama di sektor teknologi.

Kepala Program Kebijakan Asia di Institut Diplomasi Israel, Gedaliah Afterman, menyebut sikap China sebagai pukulan telak. “Hubungan ekonomi Israel-China yang selama ini baik kini terancam,” ujarnya. Israel juga kesal karena China tidak mengutuk serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya. .

China: Kepentingan Geopolitik atau Kemanusiaan?

Dukungan China untuk Palestina bukan sekadar solidaritas. Sejak era Mao Zedong, China telah mendukung gerakan kemerdekaan global, termasuk dengan mengirim senjata ke Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Namun, sejak Deng Xiaoping berkuasa pada 1978, China mulai mengambil pendekatan pragmatis, membuka hubungan dengan Israel pada 1992.

Kini, di bawah Xi Jinping, China tampaknya kembali ke akar ideologisnya, sekaligus memanfaatkan konflik untuk memperluas pengaruh di Timur Tengah. China, yang mengimpor setengah kebutuhan minyaknya dari negara-negara Teluk, memiliki kepentingan ekonomi di kawasan ini. Dengan memposisikan diri sebagai penengah, China berupaya menyaingi dominasi AS, yang secara terang-terangan mendukung Israel.

Namun, langkah ini juga menuai kritik. Beberapa analis menilai China tidak benar-benar netral. “China ingin menarik simpati negara-negara Arab, tetapi dukungannya terhadap Palestina sering kali hanya retorika,” ujar Ahmed Aboudouh dari Chatham House. Selain itu, dukungan Palestina terhadap kebijakan China di Xinjiang, di mana Uighur menghadapi tuduhan pelanggaran HAM juga menuai kecaman sebagai bentuk pragmatisme politik.

Tanggapan Indonesia dan Dunia

Di tengah sikap China, Presiden Indonesia Prabowo Subianto juga menegaskan dukungan untuk kemerdekaan Palestina. Dalam pidato perdananya pada tahun 2024 kemarin, Prabowo menyerukan bantuan kemanusiaan untuk Gaza dan menolak rencana relokasi warga Gaza ke Indonesia. “Palestina harus merdeka, dan Indonesia akan terus mendukung perjuangan mereka,” tegasnya.

Di panggung global, sikap China mendapat dukungan dari negara-negara Arab, tetapi AS menuduh Beijing “mengabaikan penderitaan” Israel. Sementara itu, PBB terus mendesak gencatan senjata, meskipun upaya ini terhambat oleh veto AS di Dewan Keamanan.

Apa yang Akan Dilakukan China?

China telah menunjukkan komitmennya melalui bantuan nyata. Pada Agustus 2024, China menyerahkan donasi 3 juta dolar AS kepada UNRWA untuk mendukung layanan kesehatan primer dan bantuan pangan darurat di Gaza, sebagai tindak lanjut dari janji Xi Jinping pada Mei 2024. Selain itu, Xi menjanjikan bantuan 500 juta yuan (sekitar Rp1 triliun) untuk pengungsi Gaza, yang hingga Mei 2025 masih dalam proses implementasi, menurut China International Development Cooperation Agency.

Selain itu, China berencana menggelar konferensi perdamaian internasional untuk menyusun peta jalan solusi dua negara. Pada Februari 2025 kemarin, China juga mengumumkan bantuan makanan untuk 60.000 keluarga di Gaza, menunjukkan langkah berkelanjutan dalam mendukung rakyat Palestina. Konflik Gaza dan sikap China menunjukkan kompleksitas geopolitik di Timur Tengah. Di satu sisi, dukungan China memberikan harapan bagi Palestina. Di sisi lain, langkah ini memperdalam ketegangan dengan Israel dan Barat, yang bisa memperpanjang krisis.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kunjungi Media Sosial Kami

440PengikutMengikuti
2,430PelangganBerlangganan

Latest Articles