Nusavoxmedia.id – Pemerintah Indonesia masih menunggu penyelesaian draf akhir Agreement on Reciprocal Tariff (ART) dengan Amerika Serikat sebelum melakukan penandatanganan resmi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan proses perundingan tarif resiprokal telah memasuki tahap akhir, meski sejumlah poin teknis masih perlu dirampungkan oleh tim negosiasi kedua negara.
“Kan kita sudah turun dari (tarif) 32 ke 19, kemudian ada hal-hal lain yang juga akan kita tunggu sampai semuanya 100 persen selesai. Terima kasih,” ujar Airlangga seusai rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/2/2026), dikutip dari kanal Youtube Sekretariat Presiden.
Penandatanganan ART diproyeksikan berlangsung bersamaan dengan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Amerika Serikat untuk menghadiri rapat perdana Board of Peace (BoP) pada 19 Februari 2026 mendatang. Airlangga menjelaskan agenda tersebut menjadi kesempatan bagi kedua kepala negara untuk memfinalisasi kesepakatan perdagangan bilateral.
“Disampaikan bahwa Bapak Presiden rencananya akan menghadiri acara pada tanggal 19 (Februari), dan di sekitar tanggal tersebut juga akan ada rencana penandatanganan ART, Agreement on Reciprocal Tariff,” kata Airlangga.
Kesepakatan ART merupakan kelanjutan negosiasi yang dimulai sejak 2025. Pada 22 Juli 2025, kedua negara menyepakati kerangka kerja yang menurunkan tarif impor produk Indonesia dari rencana awal 32 persen menjadi 19 persen.
Baca Juga: Guru Madrasah Swasta Mengadu ke DPR, Keluhkan Gaji Tak Pasti dan Akses PPPK
Kemudian, pada 22 Desember 2025, substansi perjanjian disepakati dalam perundingan di Washington DC. Dalam kesepakatan tersebut, Amerika Serikat berkomitmen memberikan pengecualian tarif bagi produk ekspor unggulan Indonesia yang tidak diproduksi di AS, seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, teh, dan minyak kelapa. Sebaliknya, Indonesia membuka akses pasar lebih luas bagi produk AS serta berkomitmen mengatasi hambatan non-tarif melalui deregulasi kebijakan.
Dalam kesempatan yang sama, Airlangga melaporkan perkembangan ekonomi nasional kepada Presiden Prabowo. Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut, dengan surplus tahunan 2025 mencapai USD 41,05 miliar—termasuk surplus USD 2,51 miliar pada Desember 2025.
Pemerintah juga menyiapkan paket stimulus ekonomi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri 2026 guna mendukung mobilitas masyarakat dan menjaga daya beli. Stimulus mencakup diskon tarif transportasi dengan anggaran Rp911,16 miliar serta bantuan pangan senilai Rp11,92 triliun. Diskon diberikan untuk kereta api 30 persen, angkutan laut 30 persen, penyeberangan hingga 100 persen, serta pesawat 17-18 persen—lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

