Nusavoxmedia.id – Presiden Rusia Vladimir Putin mengonfirmasi rencana pelaksanaan perundingan trilateral antara Rusia, Amerika Serikat (AS), dan Ukraina di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), pada 10-11 November 2026. Pertemuan tersebut dijadwalkan membahas upaya mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Putin menyampaikan hal itu dalam pertemuan bersama anggota tetap Dewan Keamanan Rusia pada Jumat (6/11/2026). Dalam kesempatan tersebut, dia mengundang sejumlah pejabat yang akan menjadi bagian dari delegasi Moskow untuk mempersiapkan keberangkatan ke Abu Dhabi.
“Mengingat negosiasi diperkirakan akan berlangsung pada Selasa (10/11), saya mengundang rekan-rekan yang akan berpartisipasi dalam pembicaraan ini,” ujar Putin, seperti dikutip kantor berita Rusia, RIA Novosti. Dilansir detikNews.com.
Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan penasihat Kremlin, termasuk Vladimir Medinsky, Igor Kostyukov, Yuri Ushakov, Mikhail Galuzin, dan Sergei Ryabkov.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov sebelumnya telah mengonfirmasi keikutsertaan Rusia dalam perundingan tersebut. Delegasi Moskow akan dipimpin oleh ajudan kepresidenan Rusia, Vladimir Medinsky.
Sementara itu, Amerika Serikat akan berperan sebagai mediator dalam pertemuan yang berlangsung selama dua hari tersebut. Utusan Khusus AS Steve Witkoff bersama Jared Kushner diperkirakan mewakili Washington dalam pembicaraan dengan delegasi Rusia dan Ukraina.
Agenda perundingan mencakup pembahasan mengenai pengaturan jaminan keamanan setelah perang, upaya meredakan ketegangan, persoalan kemanusiaan, hingga langkah lanjutan untuk mencapai kesepakatan damai.
Rencana perundingan ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di medan perang. Serangan Rusia terhadap lokasi penyaluran bantuan kemanusiaan di Komyshuvakha, wilayah Zaporizhzhia, Ukraina bagian tenggara, pada 2 November lalu menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Hingga 6 November, otoritas Ukraina melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan tersebut mencapai sedikitnya 53 orang. Lokasi yang menjadi sasaran merupakan sebuah bangunan sekolah yang digunakan warga untuk menerima bantuan kemanusiaan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuding serangan tersebut dilakukan dalam dua gelombang. Dia menyebut sembilan bom dijatuhkan dalam serangan lanjutan yang menghantam tempat perlindungan warga.
Misi Pemantauan Hak Asasi Manusia PBB di Ukraina turut mengecam serangan tersebut. Dalam pernyataannya, misi PBB menilai serangan terhadap lokasi distribusi bantuan yang dipenuhi warga sipil berpotensi melanggar prinsip-prinsip hukum humaniter internasional.
Perundingan di Abu Dhabi pada 10-11 November mendatang menjadi salah satu upaya terbaru yang dimediasi Washington untuk mendorong penyelesaian konflik Rusia-Ukraina. Namun, kedua negara masih memiliki perbedaan pandangan mengenai persyaratan yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan damai.

