Israel-Iran Gencatan Senjata, Harga Minyak Anjlok

Nusavoxmedia.id – Gencatan senjata antara Israel dan Iran terjadi pada 24 Juni, hari ini, yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump. Hal ini meredakan ketegangan di Timur Tengah dan memicu penurunan harga minyak dunia. Brent Crude anjlok 7% ke US$71,48 per barel, dan West Texas Intermediate (WTI) turun 7,2% ke US$68,51. Gencatan terjadi setelah Iran melancarkan serangan rudal “simbolis” ke pangkalan AS di Al Udeid, Qatar. Meski sempat menyerang, Iran menahan diri dari gejolak eskalasi yang lebih besar. Hal ini dapat menjaga stabilitas pasokan minyak dunia.

Kronologi Konflik dan Serangan Iran ke Pangkalan AS

Konflik pertama kali pada 13 Juni 2025 kemarin, ketika Israel melancarkan Operation Rising Lion, menyerang fasilitas nuklir Iran seperti Natanz dan Fordo. Iran membalas dengan Operation True Promise III yang meluncurkan ratusan rudal ke Israel. Ketegangan mencapai puncak saat Amerika ikut bergabung. AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada 21 Juni dengan bom bunker-buster. Sebagai respon akan serangan itu, pada 23 Juni malam hari, Iran menyerang pangkalan Al Udeid di Qatar dengan 6–19 rudal balistik, melansir dari Reuters.

Serangan Iran ke pangkalan AS di Al Udeid yang dapat menampung sampai 10.000 personel berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Patriot AS-Qatar. Selain itu, tidak ada korban jiwa atau kerusakan signifikan. Iran memberi peringatan awal kepada Qatar dan AS, yang disebut Trump sebagai respons lemah. Qatar mengutuk serangan Iran ini sebagai “pelanggaran kedaulatan” namun tetap menjaga hubungan diplomatik dengan Iran. Laporan awal tentang serangan ke pangkalan Ain al-Assad di Irak ternyata keliru. Alarm dipicu puing rudal Iran yang menargetkan Israel.

Gencatan Senjata Israel – Iran

Pada 23 Juni kemarin, Trump mengumumkan gencatan senjata antara Israel-Iran dengan Qatar sebagai mediator. Iran kemudian menghentikan operasi militer pada 24 Juni pukul 04.00 waktu Tehran. Israel belum mengkonfirmasi, tetapi serangan di Tehran terhenti. Gencatan senjata ini meredakan kekhawatiran gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital 20% minyak dunia. Ancaman penutupan selat Hormuz tidak terjadi.

“Pasar lega karena Selat Hormuz tetap aman,” ujar Phil Flynn selaku analis Price Futures Group, mengutip dari reuters. Joint Maritime Information Centre (JMIC) melaporkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz naik 5% sebelum gencatan senjata yang menandakan aliran minyak stabil.

Penyebab Anjloknya Harga Minyak

Harga minyak turun karena tiga faktor utama. Pertama, serangan Iran ke Al Udeid bersifat simbolis dan tidak mengganggu pasokan minyak. Selain itu, Iran menahan diri dari menutup Selat Hormuz. Kedua, gencatan senjata juga menghapus premi risiko geopolitik sebesar US$10 per barel, ujar Goldman Sachs melansir dari reuters. Ketiga, International Energy Agency (IEA) melaporkan pasokan minyak naik 200.000 barel per hari menjadi 1,8 juta barel per hari, sementara permintaan turun 20.000 barel per hari.

Dampak Ekonomi Global

Penurunan harga minyak membawa angin segar bagi konsumen dan negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Di Amerika, harga bensin yang sempat naik 7 sen menjadi US$3,19 per galon diperkirakan turun ke US$3,10 dalam beberapa minggu, menurut GasBuddy. Di Indonesia, harga bahan bakar di pom bensin tetap stabil.

Namun, ketidakpastian tetap membayangi. Iran, yang memproduksi 3,4 juta barel minyak per hari, masih bisa mengganggu pasokan jika gencatan senjata gagal. “Kita belum sepenuhnya aman. Jika konflik kembali memanas, harga minyak bisa melonjak ke US$100 per barel,” kata Helima Croft dari RBC Capital.

Related Articles

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kunjungi Media Sosial Kami

440PengikutMengikuti
2,430PelangganBerlangganan

Latest Articles