Merger TikTok-Tokopedia Picu PHK Massal: Efisiensi atau Ancaman Monopoli?

Nusavoxmedia.id –Merger TikTok Shop dan Tokopedia pada Januari 2024 menjanjikan revolusi e-commerce Indonesia. Dengan investasi US$1,5 miliar dari ByteDance (induk TikTok) untuk menguasai 75,01% saham Tokopedia, kolaborasi ini menggabungkan teknologi global dengan jaringan lokal. Namun, gelombang PHK massal melanda, dengan 450 karyawan diberhentikan pada 2024 dan rencana PHK lanjutan pada Juli 2025. Selain itu, kekhawatiran tentang potensi monopoli mencuat di tengah pengawasan ketat regulator.

Alasan PHK Massal Terjadi

  1. Konsolidasi dan Duplikasi Peran
    Merger menciptakan tumpang tindih peran di divisi seperti pemasaran dan logistik. Direktur Urusan Korporasi ShopTokopedia, Nuraini Razak, menyatakan PHK perlu untuk efisiensi organisasi. Sekitar 70% peran di Tokopedia dianggap redundan (berlebihan) oleh ByteDance, yang menerapkan pendekatan lean. Misalnya, tim kreatif Tokopedia dengan 80 anggota dikonsolidasikan ke tim global ByteDance yang hanya beranggotakan 12 orang, memicu PHK di divisi pemasaran dan pergudangan.
  2. Tekanan Efisiensi ByteDance
    ByteDance dikenal dengan budaya kerja data-driven. Pasca-merger, sistem Tokopedia diintegrasikan ke infrastruktur ByteDance, membuat banyak peran tidak diperlukan. Strategi ini sejalan dengan PHK global ByteDance pada 2024 di divisi pemasaran. Ekonom Nailul Huda dari Celios menegaskan bahwa efisiensi penting agar TikTok-Tokopedia bersaing dengan Shopee dan Lazada di tengah “tech winter.”
  3. Kebijakan Pemerintah
    Larangan e-commerce di platform media sosial (Permendag No. 31/2023) memaksa TikTok Shop merger dengan Tokopedia. Integrasi backend dan perubahan kebijakan internal menyulitkan karyawan beradaptasi sehinnga memicu PHK. Rumor penggantian karyawan lokal dengan tenaga asing yang meski dibantah Kemenaker juga menambah keresahan publik.

Dampak PHK Massal

Gelombang PHK massal pertama terjadi pada Juni 2024, menimpa 450 karyawan (9% dari 5.000 karyawan gabungan), terutama di divisi logistik, pemasaran, dan operasional. Isu PHK lanjutan ramai di media sosial seperti X sejak Mei 2025 kemarin, dengan laporan bahwa ratusan karyawan akan terdampak pada Juli 2025 mendatang mengutip dari Bloomberg. PHK ini menjadi bagian dari efisiensi pasca-merger, dengan total karyawan tersisa sekitar 2.500 orang. Dampaknya sebagai berikut :

  1. Pekerja
    PHK 450 karyawan (9% dari 5.000 karyawan gabungan) pada tahun 2024 berdampak berat, terutama di divisi logistik. Meski Tokopedia menjanjikan pesangon, ketidakjelasan proses memicu protes. Netizen menyebut bahwa PHK sebagai akibat “tumpang tindih tim.” Karyawan yang bertahan menghadapi tekanan budaya kerja “996” ByteDance (9 pagi-9 malam, 6 hari seminggu), meski tidak resmi.
  2. Perusahaan dan Reputasi
    PHK meningkatkan efisiensi, tetapi merusak citra Tokopedia dan GoTo (pemegang 24,99% saham). Ekonom Richard dari Universitas Atma Jaya memperingatkan bahwa pengelolaan PHK yang buruk dapat mencoreng reputasi. Namun, merger diproyeksikan meningkatkan gross merchandise value (GMV) menjadi US$35 miliar pada tahun 2025, menguasai 43% pasar e-commerce Indonesia (Medium).
  3. Industri dan Potensi Monopoli
    PHK mencerminkan konsolidasi pasar e-commerce, yang tumbuh 8% menjadi US$82 miliar pada 2023 (e-Conomy SEA 2023). Namun, dominasi TikTok-Tokopedia memicu kekhawatiran monopoli. KPPU mengawasi merger ini, meminta sistem logistik dan pembayaran tetap terbuka untuk mencegah praktik predatoris mengutip dari Kompas. Pengamat Tesar menyoroti risiko keamanan data, karena data center ByteDance di luar negeri dapat menguasai perilaku konsumen. merger ini juga dapat menjadi langkah asing buat kuasai pasar. Jika monopoli terjadi, harga produk bisa naik, UMKM kehilangan bargaining power, dan persaingan melawan Shopee-Lazada melemah. Meski KPPU belum menemukan pelanggaran, pengawasan ketat berlanjut.

Tantangan ke Depan

Tokopedia harus transparan dalam proses PHK, memastikan hak karyawan terpenuhi. Pemerintah perlu memperketat regulasi data dan monopoli untuk melindungi UMKM dan konsumen. Pelatihan ulang bagi karyawan terdampak dapat membantu mereka beradaptasi. Kemenaker harapannya dapat menegaskan perlindungan terhadap pekerja, meskipun implementasi nantinya menjadi tantangan.

Penutup

Merger TikTok-Tokopedia menjanjikan dominasi e-commerce, tetapi PHK massal dan risiko monopoli menjadi harga mahal. Efisiensi penting, tetapi keadilan bagi pekerja dan persaingan sehat tak boleh jadi korban. Dengan transparansi dan regulasi kuat, merger ini dapat mendukung e-commerce inklusif, bukan monopoli yang merugikan.

Related Articles

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kunjungi Media Sosial Kami

440PengikutMengikuti
2,430PelangganBerlangganan

Latest Articles