Kemenkes Ungkap Bahaya Kabut Asap Karhutla bagi Fisik dan Mental 

Nusavoxmedia.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat terhadap dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berkepanjangan. Selain mengancam kesehatan fisik, paparan kabut asap juga berpotensi mengganggu kesehatan mental akibat terhambatnya aktivitas sehari-hari.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan, gangguan rutinitas, keterbatasan aktivitas di luar rumah, serta terhambatnya interaksi sosial dan kegiatan ekonomi dapat memicu tekanan psikologis.

“Kabut asap berkepanjangan juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan jiwa, stres dan kecemasan karena aktivitas sosial ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan terganggu,” ujar Aji Muhawarman dalam siaran pers, Kamis (15/10/2026). Dikutip dari Kompas.com

Untuk mengurangi dampak paparan asap, Kemenkes mengimbau masyarakat, khususnya orangtua, agar memastikan anak-anak beraktivitas di dalam ruangan dengan kualitas udara yang lebih bersih. Masyarakat juga diminta tidak mengabaikan keluhan kesehatan yang berlangsung terus-menerus.

“Jika keluhan menetap dan mengganggu keseharian, segera konsultasikan dengan tenaga medis atau kesehatan, jangan tunggu memburuk,” ucap Aji.

Dari sisi kesehatan fisik, Kemenkes mencatat sebanyak 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif hingga 12 Oktober 2026. Kasus tersebut tersebar di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi yang terdampak karhutla. Dari jumlah itu, sebanyak 62.400 kasus atau 22,5 persen dialami anak berusia 0–5 tahun.

Kemenkes terus memantau perkembangan kasus ISPA untuk mengantisipasi lonjakan pasien di wilayah terdampak. Pemantauan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat penanganan kesehatan selama kabut asap masih berlangsung.

“Data pasien ISPA akibat karhutla ini akan terus dipantau untuk mendeteksi peningkatan kasus dan memperkuat respons kesehatan,” kata Aji.

Kabut asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan berbagai zat berbahaya yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan polutan tersebut berisiko memicu ISPA, batuk, dan sesak napas, serta memperburuk kondisi penderita asma.

Bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, dan orang dengan penyakit paru kronis termasuk kelompok yang paling rentan terhadap dampak paparan partikel halus. Karena itu, Kemenkes meminta masyarakat segera mencari pertolongan medis apabila muncul gejala pernapasan yang mengarah pada kondisi serius, terutama pada anak-anak.

“Jika anak mengalami sesak napas, napas cepat, sulit menyusu atau minum, segera bawa ke fasilitas kesehatan,” ujar Aji.

Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan nebulizer atau alat terapi inhalasi secara mandiri tanpa indikasi yang jelas. Penggunaannya harus mengikuti petunjuk tenaga medis agar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kunjungi Media Sosial Kami

440PengikutMengikuti
2,430PelangganBerlangganan

Latest Articles