Nusavoxmedia.id – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berada di level tinggi hingga penghujung 2026. Sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap mata uang Garuda belum akan mereda dalam waktu dekat, sehingga berpotensi berdampak pada kenaikan harga barang, inflasi, hingga daya beli masyarakat.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang kuartal IV 2026.
Menurut Tauhid, pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Di antaranya suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang masih tinggi, harga minyak mentah dunia, serta keluarnya modal asing atau capital outflow menyusul laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan terus melakukan berbagai langkah untuk menahan pelemahan rupiah agar tidak semakin dalam. Upaya itu antara lain melalui insentif lindung nilai atau hedging dengan instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Tauhid menilai langkah BI dapat membantu menjaga rupiah agar tidak jatuh lebih jauh. Namun, peluang mata uang Garuda kembali menguat ke kisaran Rp 17.000 per dolar AS dinilai cukup sulit, begitu pula kemungkinan pelemahan hingga menembus Rp 18.200 per dolar AS.
“BI akan all-out, dia akan all-out untuk untuk tidak terlalu terpuruk rupiah-nya gitu ya. Tapi kalau untuk di bawah Rp 18.000 per dolar rasanya sulit lagi,” terangnya, Selasa (3/11/2026). Dilansir detikcom.
Di sisi lain, pelemahan rupiah berpotensi menambah tekanan terhadap perekonomian dalam negeri. Salah satu dampak yang perlu diwaspadai adalah kenaikan harga barang impor yang dapat mendorong inflasi.
Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya yang harus dikeluarkan importir untuk membeli barang dari luar negeri menjadi lebih besar. Kenaikan biaya tersebut berpotensi diteruskan ke harga jual produk di pasar domestik.
“Dampaknya mungkin ke perekonomian saya kira salah satunya ini barang-barang impor kita. Karena rupiah melemah, biasanya barang impor pasti jadi lebih tinggi dan inflasi terjadi,” terangnya.
Tauhid memperkirakan inflasi secara umum berpotensi mencapai 3,5 persen. Salah satu pemicunya berasal dari imported inflation, yakni kenaikan harga barang di dalam negeri akibat meningkatnya biaya barang impor.
“Inflasi secara umum ini bisa sampai 3,5% ya tampaknya. Salah satu faktornya adalah imported inflation dari barang-barang impor ya, misalnya besi, baja, bahan kimia, macam-macamnya,” ungkap Tauhid lagi.
Tekanan terhadap perekonomian juga berpotensi semakin besar karena pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan tingginya harga minyak mentah dunia. Tauhid menyebut harga minyak masih berada di kisaran US$ 105-106 per barel.
Kondisi tersebut membuat biaya impor energi semakin mahal. Selain harga minyak yang harus dibayar dalam dolar AS meningkat, pelemahan rupiah juga membuat kebutuhan dana dalam mata uang domestik untuk melakukan pembayaran menjadi lebih besar.
Dampaknya dapat merembet ke harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan avtur. Kenaikan harga avtur berpotensi memengaruhi tarif penerbangan, sehingga masyarakat dapat menghadapi tambahan beban biaya transportasi.
“Termasuk juga harga BBM nonsubsidi, ya, itu juga menurut pendorong ya, termasuk tiket pesawat yang menyesuaikan harga avtur. Walaupun nanti Desember mungkin ada diskon, tapi tetap harganya sudah tidak bisa ditolerir begitu karena harga BBM-nya tinggi,” kata Tauhid.
Menurut dia, tekanan dari kenaikan harga barang dan energi tersebut berisiko mengurangi daya beli masyarakat secara bertahap. Pelemahan rupiah juga menjadi beban bagi perusahaan dan importir yang memiliki kewajiban pembayaran utang luar negeri dalam valuta asing.
Pasalnya, perusahaan membutuhkan lebih banyak rupiah untuk memenuhi kewajiban utang dalam dolar AS ketika nilai tukar mata uang domestik melemah.
“Tapi kalau misalnya utang dalam bentuk valas ke luar negeri, ya mereka akan membayar utang dengan jauh lebih mahal ketika nilai tukar rupiah juga melemah,” tegasnya.
Sementara itu, Pengamat Mata Uang Lukman Leong juga memperkirakan rupiah masih akan berada di atas Rp 18.000 per dolar AS hingga akhir 2026. Bahkan, ia memproyeksikan nilai tukar rupiah dapat mencapai Rp 18.350 per dolar AS pada penghujung tahun.
“Untuk akhir tahun diperkirakan berkisar 18.350,” ujar Lukman. Dilansir detikcom.
Lukman menjelaskan, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku maupun barang konsumsi. Kenaikan biaya tersebut berpotensi mendorong harga produk di dalam negeri, meskipun dampaknya tidak selalu langsung dirasakan konsumen.
Menurutnya, kecepatan kenaikan harga bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari ketersediaan stok, kontrak impor, biaya produksi, hingga kemampuan produsen menanggung tambahan beban biaya.
“Namun kenaikan harga tidak selalu terjadi secara langsung karena bergantung pada stok, kontrak impor, biaya produksi, dan kemampuan produsen menyerap kenaikan biaya,” ujarnya.
Meski pelaku usaha masih memiliki ruang untuk menahan kenaikan harga, tekanan tersebut berpotensi semakin terasa apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama.
“Jika pelemahan berlangsung lama, tekanan tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat,” tandas Lukman.

