Dugaan Penistaan Agama di The Sounds Project, Polisi Panggil EO dan MC

Nusavoxmedia.id — Polisi menyelidiki dugaan penistaan agama yang berkaitan dengan promosi minuman keras (miras) melalui tantangan hafalan Al-Qur’an dalam gelaran konser The Sounds Project di Ancol, Jakarta Utara. Dalam penyelidikan tersebut, polisi memanggil pihak event organizer (EO) dan pembawa acara atau MC. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan, klarifikasi terhadap pihak EO dan MC dijadwalkan pada Selasa (11/8/2026).

“Hari ini, Selasa, 11 Agustus 2026, penyidik menjadwalkan klarifikasi terhadap pihak EO dan MC acara,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan, Selasa (11/7/2026). Di kutip dari detik.com

Selain memanggil EO dan MC, polisi berkoordinasi dengan pihak penyelenggara The Sounds Project serta pemilik booth minuman yang diduga terlibat dalam kegiatan tersebut.

Langkah itu dilakukan untuk mendalami rangkaian peristiwa yang menjadi sorotan.

“Polsek Pademangan berkoordinasi dengan penyelenggara dan pemilik booth untuk membantu kelancaran proses hukum,” kata dia.

Budi mengatakan proses penyelidikan masih berjalan. Polisi selanjutnya akan melengkapi administrasi penyelidikan sebelum melakukan gelar perkara untuk menentukan langkah hukum berikutnya.

“Selanjutnya, penyidik akan melengkapi administrasi penyelidikan dan melakukan gelar perkara. Kepolisian juga memfasilitasi masyarakat yang hendak membuat laporan terkait peristiwa tersebut,” imbuhnya.

Sebelumnya, beredar video yang memperlihatkan sebuah booth produk minuman keras di salah satu festival musik menggelar tantangan hafalan surah Ad-Dhuha bagi pengunjung.

Dalam video tersebut, pengunjung yang mampu menghafalkan surah itu disebut akan memperoleh imbalan yang diduga berupa minuman keras.

Peristiwa tersebut kemudian mendapat perhatian publik karena aktivitas promosi tersebut menggunakan materi yang berkaitan dengan agama.

Pihak penyelenggara The Sounds Project turut memberikan respons atas kejadian tersebut.

Melalui akun Instagram resminya, penyelenggara menyatakan mengecam tindakan yang menjadikan agama sebagai bagian dari tantangan maupun promosi produk.

“Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun,” kata The Sounds Project melalui akun Instagram resminya.

The Sounds Project menegaskan kegiatan tersebut tidak dilakukan berdasarkan arahan ataupun persetujuan dari pihak penyelenggara.

Mereka juga mengaku telah memberikan teguran kepada sponsor yang berkaitan dengan booth tersebut.

“Kami telah menegur pihak sponsor terkait dan meminta mereka untuk menyelesaikan kasus ini hingga tuntas,” ujarnya.

Penyelenggara menyatakan akan mengawal proses penyelesaian persoalan tersebut.

Mereka juga akan mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat langsung dalam kejadian tersebut agar dapat dimintai pertanggungjawaban.

Selain itu, The Sounds Project akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan acara untuk mencegah kejadian serupa terulang pada kegiatan berikutnya.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kunjungi Media Sosial Kami

440PengikutMengikuti
2,430PelangganBerlangganan

Latest Articles