Nusavoxmedia.id – Kasus love scamming kembali mencuri perhatian setelah Kani Dwi Haryani, staf media pribadi Presiden Prabowo Subianto, menjadi korban penipuan daring dengan kerugian Rp 48 juta. Pelaku, Marpuah, ditangkap Polda Banten pada 12 Juni 2025, setelah berpura-pura sebagai pilot pria melalui Instagram. Fenomena ini menyoroti kerentanan perempuan terhadap love scamming, sebuah kejahatan siber yang memanfaatkan emosi dan kepercayaan. Mengapa perempuan sering menjadi sasaran, dan bagaimana kasus Kani menggambarkan masalah ini? Artikel ini mengupas kronologi, faktor kerentanan, dan cara melindungi diri dari ancaman serupa.
Mengapa Perempuan Rentan Terkena Love Scamming?
Love scamming dapat berarti memanfaatkan keinginan akan hubungan emosional, dan perempuan kerap menjadi target pelaku. Studi dari University of Warwick menunjukkan perempuan cenderung lebih responsif terhadap komunikasi daring yang penuh pujian atau perhatian romantis, memungkinkan pelaku membangun kepercayaan dengan cepat. Pelaku sering kali menggunakan narasi seperti pria ideal (sukses) seperti dokter, pilot agar dapat memikat korban. Pelaku juga memanfaatkan streotif sosial tentang pasangan ideal. Tekanan sosial untuk menjalin hubungan, terutama bagi perempuan lajang di usia tertentu, dapat meningkatkan kerentanan terhadap pendekatan romantis palsu.
Data OJK tahun 2024 juga mengungkap literasi digital dan keuangan perempuan di Indonesia cenderung lebih rendah dibandingkan laki-laki yang membuat mereka lebih mudah dimanipulasi. Meski demikian, laki-laki juga dapat menjadi korban dengan 30% kasus global melansir dari FTC Consumer Sentinel Network. Hal ini juga menunjukkan bahwa kurangnya kewaspadaan digital tidak terbatas pada satu gender saja. Selain itu, kerugian global akibat love scamming mencapai US$1,14 miliar pada 2023 yang mempertegas urgensi kesadaran keamanan siber.
Kronologi Kasus: Staf Media Prabowo Tertipu Rp 48 Juta
Kronologi kasusnya adalah pada November 2024, Kani Dwi Haryani seorang mantan reporter tvOne dan juga influencer TikTok (@kanikatoo), mendapat komentar di akun Instagramnya (@kanidwi) dari akun @febrianalydrss_. Komentarnya berisi “Salamin ke Pakwowo ya, Mbak.” Yang kemudian Kani membalas, “Hi, Haloooooo. Okeeey, disalamken hehe,” memulai komunikasi yang kemudian berlanjut ke WhatsApp. Pelaku Bernama Marpuah seorang warga Lebak, Banten yang berpura-pura sebagai Febrian Alaydrus. Seorang eks-pilot Garuda Indonesia yang bekerja di Emirates. Ia menggunakan foto pria menurut Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Banten.
Kemudian, pada 1 Maret 2025, Marpuah meminjam Rp 13 juta untuk “administrasi kerja sepupu” bernama Miftahul Syifa (@mfthsy__), yang kemudian ditransfer ke rekening BRI atas nama Indri Sintia. Pada 27 April 2025, pelaku meminjam Rp 35 juta untuk “pelatihan Emirates,” sehingga total kerugian Rp 48 juta. Kani kemudian curiga setelah alamat di Sumurbuang, Lebak, yang pelaku berikan ketika Kani mengirim bunga sebagai hadiah dalam hubungan virtual mereka ternyata fiktif. Kani pun melakukan Investigasi mandiri pada 12-13 Mei 2025, termasuk kunjungan ke Sumurbuang dan toko emas H. Juli di Rangkasbitung yang memastikan bahwa Febrian tidak ada. Berdasarkan informasi masyarakat, Polda Banten menangkap Marpuah pada 12 Juni 2025 pukul 22:50 WIB di Cibadak, Lebak. Kani kemudian mengajukan laporan resmi pada 13 Juni 2025 untuk mendukung penyidikan.
Marpuah sebenarnya menargetkan dua wanita lain dari Jawa Tengah dan Jawa Barat, meski ujungnya belum berhasil. Kani menemukan foto-fotonya saat bertugas di Istana diunggah di “Close Friends” @febrianalydrss_, seolah pelaku staf kepresidenan yang memperparah penipuan.
Proses Hukum dan Tindakan Polisi
Marpuah dijerat Pasal 35 jo Pasal 51 UU ITE (UU No. 11/2008, diubah UU No. 1/2024) dan Pasal 378 KUHP, dengan ancaman 12 tahun penjara dan denda Rp 12 miliar. Ia menghancurkan ponsel Samsungnya sehingga menyulitkan penyidikan. Polda Banten menyelidiki kemungkinan jaringan yang lebih besar. Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Kapolri Listyo Sigit Prabowo tentang adanya sindikat global. “Saya melapor agar tidak ada korban lain,” ujar Kani, menegaskan motivasinya. Penyidikan juga mencakup rekening Indri Sintia untuk melacak aliran dana.
Peringatan Keamanan Digital
Love scamming menyebabkan kerugian global hingga US$1,14 miliar pada tahun 2023, dengan banyak kasus melibatkan alasan darurat seperti sakit atau masalah hukum. Untuk mencegahnya, pakar keamanan digital menyarankan kewaspadaan ekstra saat berinteraksi daring. Memverifikasi identitas melalui reverse image search dapat mengungkap foto profil palsu, seperti yang Marpuah lakukan. Menghindari transfer uang kepada orang yang belum ketemu secara langsung menjadi langkah penting, terutama saat pelaku mengaku dalam situasi darurat. Membatasi informasi pribadi di media sosial, seperti pekerjaan atau Lokasi. Hal ini dapat mengurangi risiko dieksploitasi. Jika ada kecurigaan, segera laporkan ke polisi siber. Kani, dengan pengalaman jurnalistiknya berhasil mengungkap penipuan melalui investigasi mandiri. Tetapi, kasus ini menegaskan bahwa kewaspadaan digital adalah kebutuhan universal.
Penutup
Kasus love scamming yang menimpa Kani Dwi Haryani mengungkapkan betapa canggihnya penipuan daring yang mengeksploitasi emosi manusia. Dengan pelaku yang sudah tertangkap dan proses hukum juga sudah berjalan, langkah Kani melapor dapat menjadi pelajaran bagi Kita untuk melawan kejahatan siber. Kesadaran digital yang lebih baik dan kewaspadaan terhadap interaksi daring menjadi kunci melindungi masyarakat dari ancaman serupa di masa depan.


[168]Wagiplus Philippines: Best Online Slot & Casino – Login, Register, and App Download Official Link Join Wagiplus Philippines, the best online slot & casino site. Secure Wagiplus login, fast Wagiplus register, and official Wagiplus app download. Use our Wagiplus casino link for premium slot online games today! visit: wagiplus