Nusavoxmedia.id – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan temuan otoritas intelijen Indonesia mengenai modus perekrutan warga negara Indonesia (WNI) untuk menjadi tentara Rusia yang berawal dari iming-iming menggiurkan. Perekrutan tersebut ditenggarai memanfaatkan negara pihak ketiga dengan tawaran pekerjaan non-militer.
“Yang kemudian membuat seolah-olah itu adalah lowongan satuan pengamanan ataupun kemudian tenaga administrasi, yang diiming-imingi oleh gaji yang besar,” kata Dasco saat konferensi pers di Gedung DPR RI, Selasa (1/9/2026). Di kutip dari Kompas.com
Dasco menjelaskan bahwa skema penawaran lowongan kerja tersebut dirancang sedemikian rupa agar tampak wajar dan tidak terikat dengan aktivitas tempur.
“Jadi kami mendapatkan informasi dari otoritas intelijen kita bahwa perekrutan tentara itu kemudian dilakukan oleh negara pihak ketiga,” ujar Dasco.
Ia menambahkan, calon korban dijanjikan kompensasi finansial yang tinggi apabila bersedia menerima tawaran pekerjaan sebagai tenaga pengamanan atau staf administrasi tersebut.
Pernyataan Dasco ini memberikan titik terang setelah sehari sebelumnya Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengaku belum mengantongi laporan intelijen terkait isu keterlibatan warga Indonesia dalam militer Rusia
“Tidak ada. Saya Tidak menerima laporan ini. Tidak ada informasi,” kata Sjafrie saat menjawab pertanyaan mengenai data intelijen Ukraina di Gedung DPR RI, Senin (31/8/2026).
Isu perekrutan ini pertama kali mencuat setelah Badan Intelijen Luar Negeri Ukraina (SZRU) merilis laporan resmi pada 27 Agustus 2026. Dalam laporan tersebut, SZRU mengklaim menemukan dokumen yang menunjukkan sedikitnya delapan WNI telah direkrut masuk ke dalam jajaran militer Rusia.
SZRU mengindikasikan para WNI tersebut dipekerjakan sebagai cannon fodder atau serdadu umpan meriam yang dikorbankan di garis depan pertempuran. Pihak Ukraina menyebut Rusia gencar merekrut warga asing menggunakan iming-iming gaji tinggi, tugas non-kombatan, percepatan kewarganegaraan, serta jaminan tunjangan sosial.
Menurut data SZRU, pola serupa sebelumnya telah diterapkan kepada warga negara Nepal, Kuba, Kenya, dan India. Banyak dari warga asing tersebut dikirim langsung ke medan perang tanpa pembekalan pelatihan militer yang memadai hingga gugur dalam beberapa pekan pertama. Atas temuan ini, intelijen Ukraina memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara sasaran perekrutan personel militer Rusia.

