Nusavoxmedia.id – Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono meminta Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mencermati pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang melontarkan lelucon mengenai popularitas nama Mohammad. Dave menilai langkah diplomatik perlu dipertimbangkan untuk merespons pernyataan tersebut, dengan tetap mengedepankan kehati-hatian dalam hubungan internasional.
Pernyataan Trump itu menjadi sorotan karena menyangkut nama yang memiliki makna religius bagi umat Islam. Dave mengingatkan para pemimpin dunia agar mempertimbangkan dampak pernyataan mereka, terutama jika berkaitan dengan simbol dan identitas keagamaan.
“Menurut saya, setiap pemimpin dunia perlu mempertimbangkan dampak dari pernyataannya, terutama ketika menyangkut simbol, nama, atau hal-hal yang memiliki makna penting bagi suatu agama. Kebebasan berpendapat tetap perlu disertai tanggung jawab dan penghormatan terhadap keyakinan orang lain,” kata Dave saat dihubungi, Sabtu (17/10/2026). Dikutip dari detikNews
Menurut Dave, nama Mohammad memiliki kedudukan religius yang mendalam bagi umat Islam. Karena itu, menjadikannya bahan lelucon dalam konteks politik perlu disikapi secara bijaksana agar tidak memicu kesalahpahaman maupun melukai perasaan pemeluk agama.
“Saya memandang Kemlu RI perlu mencermati pernyataan tersebut dan menilai langkah diplomatik yang tepat. Jika dipandang perlu, komunikasi dapat dilakukan untuk menyampaikan pentingnya menghormati sensitivitas keagamaan, tanpa harus terburu-buru mengambil langkah yang berpotensi memperkeruh hubungan bilateral,” ucap dia.
Dave menambahkan, Indonesia memiliki komitmen terhadap toleransi, penghormatan antarumat beragama, serta hubungan internasional yang dilandasi sikap saling menghargai. Menurutnya, prinsip-prinsip tersebut perlu terus disuarakan dalam hubungan dengan negara lain.
“Kita perlu bersikap tegas dalam menjaga martabat dan penghormatan terhadap agama, sekaligus tetap mengedepankan diplomasi yang terukur. Tujuannya bukan memperbesar polemik, melainkan membangun kesadaran bahwa perbedaan pandangan politik tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan penghormatan terhadap keyakinan orang lain,” imbuh dia.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta. Ia mengecam pernyataan Trump dan menilai lelucon yang membawa nama Muhammad sebagai sesuatu yang tidak patut, terlebih disampaikan oleh seorang kepala negara.
“Nama Muhammad memiliki makna yang sangat dalam bagi umat Islam. Karena itu, menjadikannya bahan olok-olok, terlebih oleh seorang kepala negara, tentu sangat tidak patut. Seorang pemimpin dunia seharusnya memberi teladan dalam menghormati keyakinan dan identitas keagamaan masyarakat,” ujar Sukamta.
Sukamta mengatakan kebebasan berbicara harus disertai tanggung jawab, terutama bagi pemimpin negara yang pernyataannya menjadi perhatian masyarakat internasional. Ia menilai perbedaan kepentingan politik, termasuk ketegangan antara AS dan Iran, tidak seharusnya menjadikan identitas agama sebagai sasaran ejekan.
“Silakan berbeda pandangan politik, bahkan mengkritik kebijakan suatu negara dengan keras. Tetapi jangan membawa identitas agama ke dalam olok-olok politik. Apalagi dunia saat ini sedang menghadapi begitu banyak konflik yang membutuhkan sikap saling menghormati,” tegasnya.
Sebelumnya, Trump melontarkan lelucon mengenai nama Mohammad saat menyindir kepresidenan Iran dalam pidato di hadapan para pendukungnya pada sebuah kampanye pemilu sela. Pernyataan itu dilaporkan Reuters pada Sabtu (17/10/2026).
“Kalian tahu, jika ragu tentang nama seseorang dari Timur Tengah, panggil saja ‘Mohammad,'” kata Trump dilansir Reuters, Sabtu (17/10).
“Peluangnya benar sekitar 65%. ‘Halo, Mohammad.’ Saya sudah melakukannya bertahun-tahun. Tidak pernah salah,” imbuhnya.

