Nusavoxmedia.id – Kementerian Agama (Kemenag) merealisasikan bantuan sebesar Rp74,24 miliar untuk pemulihan sarana dan prasarana 821 pesantren di Aceh yang terdampak banjir dan longsor.
Anggaran tersebut merupakan bagian dari alokasi awal sebesar Rp80,215 miliar yang disiapkan untuk 902 lembaga. Setelah dilakukan pemutakhiran serta verifikasi kondisi di lapangan, jumlah pesantren yang ditetapkan sebagai penerima bantuan berubah menjadi 821 lembaga.
” Bantuannya awalnya dialokasikan untuk 902 lembaga dengan total anggaran Rp 80,215 miliar. Setelah dilakukan pemutakhiran dan verifikasi, jumlah penerima menjadi 821 lembaga, dengan nilai bantuan yang direalisasikan sebesar Rp 74,24 miliar,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Suyitno dalam keterangannya, Senin (14/9/2026). Di kutip dari Kompas.com
Berdasarkan hasil verifikasi, terdapat perubahan data pada sejumlah pesantren. Sebanyak 77 lembaga yang sebelumnya masuk kategori rusak sedang dan empat lembaga dalam kategori rusak ringan mengalami perubahan berdasarkan kondisi terkini.
Dari total penerima bantuan, tujuh pesantren yang mengalami kerusakan total mendapatkan bantuan dengan nilai keseluruhan Rp1,96 miliar. Sementara itu, bantuan untuk 250 lembaga yang mengalami kerusakan berat mencapai Rp33,98 miliar.
Adapun 404 pesantren dengan kerusakan sedang memperoleh bantuan sebesar Rp30,3 miliar, sedangkan 160 lembaga yang mengalami kerusakan ringan mendapatkan bantuan senilai Rp8 miliar.
Suyitno mengatakan, hasil verifikasi tersebut membuat pemerintah dapat melakukan efisiensi anggaran sebesar Rp5,975 miliar dari alokasi awal. Menurut dia, penyaluran bantuan harus didasarkan pada kondisi riil masing-masing pesantren, bukan sekadar data administratif.
“Kami tidak ingin bantuan berhenti pada angka administrasi. Yang menjadi dasar adalah kondisi nyata pesantren. Karena itu, data harus terus diverifikasi agar bantuan yang diberikan tepat sasaran dan sesuai tingkat kerusakan,” ujarnya.
Dia menjelaskan, bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung pemulihan fasilitas pesantren sekaligus memastikan kegiatan belajar dan pengasuhan santri dapat kembali berlangsung secara layak.
“Pesantren adalah ruang belajar, pengasuhan, sekaligus kehidupan bagi para santri. Ketika sarana dasarnya terganggu karena bencana, pemulihannya harus menjadi prioritas agar anak-anak tetap bisa belajar dan beraktivitas dengan aman,” katanya.
Kemenag juga memastikan proses penyaluran hingga penggunaan bantuan akan terus dipantau. Pengawasan dilakukan agar anggaran digunakan sesuai kebutuhan pemulihan pesantren yang terdampak bencana.
“Prinsipnya sederhana, yakni cepat, tepat, dan akuntabel. Kita ingin pesantren yang terdampak segera bangkit, tetapi tetap dengan tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

