Hari Guru Nasional: Refleksi Paulo Freire dan Tanggung Jawab Merawat Semesta

Nusavoxmedia.id – Hari Guru Nasional diperingati hari ini Selasa, 25 November 2025, dengan tema “Merawat Semesta dengan Cinta”. Tema ini menggarisbawahi peran guru sebagai fondasi utama pembentukan karakter dan kesadaran sosial peserta didik.

Penetapan tanggal 25 November sebagai Hari Guru, dalam sejarahnya merujuk pada hari berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 1945, tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan. Peringatan ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Sejak saat itu, hari ini diperingati setiap tahun di berbagai satuan pendidikan sebagai momentum refleksi atas perjalanan pendidikan Indonesia.

Tema hari guru kali ini “Merawat Semesta dengan Cinta” dapat dimaknai sebagai upaya membangun kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Semesta dalam konteks ini bukan terbatas pada alam saja, tetapi lebih jauh ke ekosistem sosial seperti keluarga, sekolah, komunitas, dan ruang digital. Karena itu, peran guru disini dimaknai sebagai pendamping bagi murid atau peserta didik untuk memahami keterkaitan antara pengetahuan, nilai, dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah guru di Indonesia telah mencapai jutaan orang, tersebar di berbagai jenjang pendidikan dan wilayah. Namun, kualitas layanan pendidikan masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Di titik ini, teori pendidikan Paulo Freire memberikan kerangka analitis yang relevan untuk membaca tema peringatan tahun ini. Freire, seorang pemikir pendidikan asal Brasil, mengkritik model pendidikan yang ia sebut sebagai model perbankan (banking model). Peserta didik diposisikan hanya sebagai “wadah kosong” atau rekening kosong, sementara guru adalah “guru penabung” selaku sumber pengetahuan bagi peserta didik.

Dalam model tersebut, relasi guru dan murid bersifat satu arah, peserta didik diposisikan hanya untuk mendengarkan, dan menghafal, karena itu ruang dialog dan berpikir kritis menjadi sangat terbatas.

Sebaliknya, Freire menawarkan konsep pendidikan dialogis bernama pendidikan hadap masalah (problem-posing education). Dalam pendekatan ini, proses belajar dipahami sebagai percakapan dua arah yang mengajak peserta didik membaca realitas hidup mereka, menyelami pengalaman, dan mempertanyakan kondisi sosial yang mereka hadapi sehari-hari.

Jika dikaitkan dengan tema Hari Guru tahun ini, “cinta” dalam perspektif Freire bukanlah konsep sentimental, melainkan komitmen untuk memanusiakan relasi antara guru dan murid. Guru yang “merawat semesta” adalah guru yang membantu peserta didik melihat hubungan antara persoalan di ruang kelas dengan tantangan masyarakat yang lebih luas mulai dari ketimpangan sosial hingga literasi digital dan tanggung jawab penggunaan teknologi.

Pendekatan ini mengarah pada apa yang disebut Freire sebagai kesadaran kritis (conscientization), yaitu kemampuan memahami struktur sosial-politik dan mengambil peran aktif dalam memperbaikinya. Dalam praktik di kelas, hal ini bisa muncul dalam proyek berbasis riset sederhana tentang lingkungan sekitar, diskusi isu sosial yang relevan, hingga pembiasaan refleksi bersama antara guru dan murid.

Namun idealisme pendidikan dialogis membutuhkan ruang kerja yang sehat bagi guru. Berbagai kajian, termasuk yang dilakukan oleh RISE Programme Indonesia, menunjukkan bahwa meskipun banyak guru mengikuti pelatihan profesional, sistem pendidikan masih membatasi ruang inovasi di kelas. Kesejahteraan yang belum merata, beban administrasi tinggi, hingga keterbatasan fasilitas menyebabkan praktik pembelajaran yang transformatif sulit diwujudkan.

Karena itu, “merawat semesta” juga berarti merawat ekosistem kerja guru seperti kebijakan yang berpihak, akses pelatihan yang berkelanjutan, peningkatan kompetensi, serta pemberian ruang kreativitas dan dialog dalam proses belajar.

Melalui sudut pandang Paulo Freire, peringatan Hari Guru Nasional 2025 dapat dilihat sebagai ajakan untuk memperkuat paradigma pendidikan yang memanusiakan, dialogis, dan berorientasi pada perubahan sosial yang lebih adil.

Pada akhirnya, bagi penulis, Hari Guru Nasional tahun ini membawa dua pesan penting yaitu pengakuan atas peran besar guru dalam membentuk perjalanan pendidikan bangsa, dan dorongan untuk memperdalam kualitas hubungan antara guru, murid, serta lingkungan sosial tempat mereka hidup.

Pemikiran Freire menegaskan bahwa inti pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Ketika proses belajar membuka ruang bagi peserta didik untuk bertanya, meragukan, dan mengkritisi realitas, pendidikan akan bergerak menuju apa yang disebut Freire sebagai pembebasan (liberation). Ini berarti keadaan di mana peserta didik menyadari kapasitas dirinya dan berani mengambil peran dalam memperjuangkan masyarakat yang lebih adil.

Momentum Hari Guru Nasional ini menjadi pengingat bersama untuk bertransformasi dari “guru penabung” menuju “guru pembebas” yang menerapkan pendidikan hadap masalah. Selamat Hari Guru Nasional bagi para pendidik di Indonesia, pahlawan tanpa tanda jasa yang merawat semesta dengan cinta.

Related Articles

1 KOMENTAR

  1. [1177]Fil777 Online Casino Philippines: Fast Fil777 Login, Easy Register & Fil777 App Download for the Best Fil777 Slots Experience. Experience Fil777 Online Casino Philippines! Get fast Fil777 login, easy register, and Fil777 app download options. Play the best Fil777 slots and win big today! visit: fil777

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kunjungi Media Sosial Kami

440PengikutMengikuti
2,430PelangganBerlangganan

Latest Articles