Nusavoxmedia.id – Massa gabungan mahasiswa, buruh, dan petani tertahan di Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di depan Gedung UOB Plaza, Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026), saat hendak menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI). Mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan karena akses menuju lokasi demonstrasi diblokade aparat gabungan TNI dan Polri.
Massa yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi dan elemen masyarakat itu bertahan di lokasi sambil mendesak petugas membuka barikade. Ketegangan meningkat ketika upaya massa untuk melewati blokade berujung aksi saling dorong dengan aparat.
Berdasarkan pantauan Kompas.com pada pukul 15.40 WIB, mahasiswa merapatkan barisan dan membentuk barikade manusia di tengah tekanan petugas. Mereka terus menyuarakan tuntutan sambil meneriakkan, “No Justice, No Peace!”
Di tengah aksi tersebut, massa membentangkan spanduk bertuliskan “Hutan Bukan Milik Oligarki”. Mereka juga menyampaikan orasi yang antara lain mendesak pemerintah menangani persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hingga pukul 16.23 WIB, massa masih berusaha mendekati barikade aparat. Sambil mengepalkan tangan, mereka meneriakkan tuntutan agar diberi jalan menuju Bundaran HI.
“Revolusi, revolusi! Biarkan kami lewat!” teriak massa.
Ketegangan semakin meningkat ketika seorang perempuan paruh baya berjaket kuning maju ke barisan depan untuk membela mahasiswa yang tertahan. Ia meminta aparat mendengarkan aspirasi massa dan mengingatkan bahwa tanah merupakan milik rakyat.
“Heh polisi-polisi, dengerin ya! Pemerintah pusat dengerin, ini tanah milik rakyat!” serunya ke arah barisan blokade.
“Mereka hanya mahasiswa, tanpa senjata. Kalian nyerang udah kayak ngadepin teroris!” lanjut wanita tersebut menyemangati massa.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) 2026, Yatalathof Ma’shum Imawan, mengatakan, sejumlah peserta aksi mengalami hambatan dalam perjalanan menuju titik demonstrasi. Sebagian massa masih tertahan, sementara peserta lainnya masih dalam perjalanan menuju lokasi.
“Masih ada yang ketahan, masih ada yang perjalanan, bahkan sudah ada yang tertangkap,” ujar Yatalathof saat ditemui di Bundaran HI, Rabu.
Menurut dia, hambatan telah dialami massa sejak keberangkatan dari luar Jakarta hingga perjalanan menuju Bundaran HI. Ia menyebut terdapat sejumlah ancaman dan intervensi yang mengganggu pergerakan peserta aksi.
“Di luar itu semua, sekarang ini kita telah melalui banyak ancaman, banyak hambatan, banyak intervensi, yang bahkan sudah dimulai dari bagaimana massa dari luar Jakarta menuju Jakarta, bahkan ketika di dalam Jakarta dan ketika menuju Bundaran HI ini,” ucapnya.
Yatalathof juga mengungkapkan adanya informasi mengenai peserta aksi yang ditangkap kepolisian.
“Infonya ada beberapa teman kami yang sudah ditangkap oleh kepolisian,” kata dia.
Hingga petang, massa belum membubarkan diri. Pantauan Kompas.com pada pukul 18.20 WIB menunjukkan mahasiswa yang mengatasnamakan diri dari BEM Universitas Negeri Jakarta (UNJ), BEM Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), BEM Universitas Pancasila, serta Brigade Universitas Indonesia masih bertahan di depan Gedung UOB Plaza.
Mereka memenuhi sebagian badan jalan, mengibarkan bendera almamater, dan membawa simbol keberagaman. Massa juga terus mendesak aparat agar membuka akses menuju Bundaran HI.
“Buka, buka, buka pintunya! Buka pintunya sekarang juga!” teriak massa secara bersahut-sahutan.
Aksi yang berlanjut hingga malam itu turut mengganggu arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman. Situasi semakin tegang ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut dan massa tetap berupaya mendekati barikade petugas.
Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Dadang Hartanto mendatangi massa di depan Gedung UOB Plaza pada Rabu malam. Saat rombongan tiba, sejumlah peserta aksi bergerak maju sambil membawa water barrier dan kayu panjang.
Pada pukul 19.06 WIB, beberapa demonstran masih berusaha mendekati barikade polisi. Dadang kemudian meminta massa menghentikan aksi dan kembali ke rumah masing-masing melalui pengeras suara.
“Terima kasih teman-teman atas aspirasinya hari ini, silakan kembali ke rumah masing-masing,” kata Dadang lewat pengeras suara.
Namun, imbauan tersebut belum membuat massa meninggalkan lokasi. Sejumlah peserta aksi mendekati Dadang yang berada di balik barikade perisai dan meminta kesempatan untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.
Salah seorang mahasiswa yang masih mengenakan jas almamater mengatakan, mereka membutuhkan bantuan Kapolda untuk meneruskan keluhan kepada pemerintah. Ia menyebut massa tidak dapat menyampaikan aspirasi secara langsung kepada DPR maupun Presiden Prabowo.
“Bapak dengar dulu aspirasi mahasiswa. Karena kami enggak dapat sampaikan kepada DPR, enggak bisa juga kepada Presiden Prabowo. Bapak yang bisa menyampaikan,” tutur dia.
Menanggapi permintaan itu, Dadang menyatakan bahwa aspirasi dapat disampaikan dari lokasi demonstrasi tanpa harus mencapai Bundaran HI. Menurut dia, perkembangan teknologi memungkinkan pesan dan pembicaraan massa diketahui publik.
“Sekarang kan jaman IT. Semua kan mendengar dan melihat, pembicaraan kita ini sudah ter-cover dengan IT, tidak harus ke HI lho,” ujar Dadang.
Massa masih bertahan selama beberapa waktu di depan Menara UOB. Polisi kemudian mengerahkan mobil pengurai massa (Raisa) untuk membubarkan demonstran.

