Nusavoxmedia.id – Anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani meminta pemerintah memastikan perlindungan kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia (lansia), dan ibu hamil dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sebab, kabut asap dari karhutla merupakan ancaman serius bagi kesehatan dan aktivitas masyarakat. “Ketika kabut asap semakin pekat dan kualitas udara memburuk, yang paling penting adalah memastikan masyarakat terlindungi. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan gangguan pernapasan harus mendapatkan perhatian khusus,” ujar Netty dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026). Dilansir Kompas.com
Pelindungan kesehatan masyarakat, kata Netty, harus menjadi bagian yang terintegrasi dalam penanganan karhutla.
Ia mengatakan bahwa pemerintah jangan hanya berorientasi terhadap pemadaman saja, tetapi juga memprioritaskan keselamatan warga.
Pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan fasilitas kesehatan juga dinilainya perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). “Negara harus hadir dalam dua hal sekaligus, mengendalikan kebakaran dan melindungi masyarakat dari dampaknya. Keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya diukur dari berkurangnya titik api, tetapi juga dari terjaganya kesehatan dan keselamatan warga,” ujar Netty.
Diketahui, karhutla yang terjadi di sejumlah provinsi menghasilkan kabut asap yang memperburuk kualitas udara. Salah satunya berdampak pada kualitas udara di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir, indeks kualitas udara (AQI) di Palangka Raya mencapai 396 pada skala Amerika Serikat (AS) pada Rabu (14/10/2026) pukul 04.00 WIB. Sementara itu, konsentrasi polutan utama PM2.5 tercatat sebesar 273 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di Palembang masuk kategori “berbahaya”.
Kualitas udara di Balikpapan, Kalimantan Timur, tercatat berada dalam kategori “tidak sehat bagi kelompok sensitif” pada Rabu (14/10/2026) pukul 06.00 Wita. Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir, indeks kualitas udara (AQI) di Balikpapan mencapai 123 pada skala Amerika Serikat (AS). Sementara itu, indeks kualitas udara (AQI) di Palembang mencapai 688 pada skala Amerika Serikat (AS).
Konsentrasi polutan PM2.5 tercatat sebesar 420 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di Palembang masuk kategori “berbahaya”. Sebagai catatan, kualitas udara dikategorikan baik jika AQI berada pada rentang 0–50, sedang pada rentang 51–100, tidak sehat bagi kelompok sensitif pada rentang 101–150, tidak sehat pada rentang 151–200, sangat tidak sehat pada rentang 201–300, dan berbahaya pada rentang 301–500.

