Nusavoxmedia.id – Pemerintah Indonesia tengah menjajaki peluang investasi asing untuk membangun jaringan kereta api Trans-Kalimantan yang direncanakan membentang hingga 2.772 kilometer.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan China dan Rusia menjadi dua negara yang telah dijajaki untuk mendukung pembangunan jaringan kereta tersebut. Pemerintah juga masih membuka peluang investasi dari dalam negeri.
Rencana pembangunan Trans-Kalimantan merupakan bagian dari pengembangan jaringan perkeretaapian jangka panjang. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah meminta Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan pembangunan jaringan kereta di Sumatera dan Kalimantan.
Dudy mengatakan komunikasi dengan calon investor dari luar negeri telah dilakukan. Pemerintah kini menunggu perhitungan dan proposal dari pihak yang berminat terhadap proyek tersebut.
“Kami sudah jajaki dalam negeri maupun dengan luar negeri, di antaranya Rusia dan China,” kata Dudy dikutip dari Antara dilansir Kompas.com.
Menurut Dudy, minat investor terhadap pembangunan jaringan kereta di Kalimantan cukup terbuka. Namun, pelaksanaan proyek nantinya tetap bergantung pada penilaian dan kesiapan investor.
“Tergantung investor tentunya mana yang menurut mereka lebih visible ya untuk mereka garap. Saya lihat sepertinya kalau Sumatra logistiknya KAI yang lebih berminat untuk mengembangkannya, kalau di Kalimantan sepertinya dari China sama Rusia yang lebih berminat,” ujar Dudy.
Pembahasan mengenai keterlibatan China kembali menjadi perhatian karena negara tersebut sebelumnya terlibat dalam pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh. Jalur kereta cepat tersebut memiliki panjang sekitar 142 kilometer dan mulai beroperasi pada 2023.
South China Morning Post (SCMP) melaporkan, keterlibatan China dalam proyek Trans-Kalimantan dinilai memiliki sejumlah keunggulan. Peneliti senior ISEAS-Yusof Ishak Institute, Siwage Dharma Negara, menyebut China memiliki ekosistem perkeretaapian yang mencakup pembiayaan, keahlian teknik, teknologi, hingga tenaga berpengalaman.
Pengalaman China dalam pembangunan Whoosh juga menjadi salah satu pertimbangan. Namun, kondisi tersebut tidak berarti proyek Trans-Kalimantan akan berjalan dengan pola pembiayaan yang sama.
Sejumlah analis menilai pengalaman Whoosh dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam menyusun skema pembiayaan dan pembagian risiko proyek baru. SCMP melaporkan, beban keuangan Whoosh menjadi salah satu faktor yang membuat pembahasan kerja sama infrastruktur berikutnya perlu dilakukan secara hati-hati.
Pakar perkeretaapian independen David Feng menilai kontraktor China memiliki pengalaman mengerjakan proyek kereta api di berbagai kondisi geografis. Menurut dia, pengalaman tersebut berpotensi menjadi salah satu keunggulan dalam pembangunan jaringan Trans-Kalimantan.
Meski demikian, pembangunan jalur kereta di Kalimantan memiliki tantangan tersendiri. Kondisi geografis, kelembapan, serta karakteristik tanah menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan dalam pembangunan infrastruktur tersebut.
Feng juga menilai China memiliki kemampuan membawa rantai pasok yang terintegrasi dalam proyek perkeretaapian, mulai dari studi kelayakan hingga pembangunan jalur.
Di sisi lain, pengalaman pembiayaan Whoosh menjadi perhatian dalam pembahasan proyek Trans-Kalimantan. SCMP melaporkan biaya pembangunan Whoosh meningkat dari perkiraan awal sekitar 6,02 miliar dollar AS menjadi sekitar 7,3 miliar dollar AS. Pada September 2026, pemerintah juga menyiapkan skema untuk menangani pembayaran utang proyek tersebut.
Siwage menilai pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran bagi pemerintah Indonesia dalam menentukan pembagian risiko komersial pada proyek infrastruktur berikutnya.
Sementara itu, dosen hubungan internasional Universitas Bina Nusantara Jakarta, Paramitaningrum, menyoroti tantangan logistik dalam pembangunan jaringan Trans-Kalimantan.
Menurut dia, proyek tersebut menghadapi risiko dari aspek geografis, teknis, dan finansial. Ia juga mempertanyakan apakah investor China akan menerapkan pendekatan yang sama seperti dalam pembangunan Whoosh serta bagaimana memastikan proyek dapat diselesaikan sesuai jadwal dan standar kualitas yang ditetapkan.
Rencana jaringan Trans-Kalimantan sendiri memiliki skala yang jauh lebih luas dibandingkan proyek Whoosh. Pemerintah tengah menyiapkan pengembangan jaringan tersebut sebagai bagian dari perluasan konektivitas perkeretaapian di Kalimantan.

