Nusavoxmedia.id– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf meminta seluruh peserta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mengutamakan kepentingan organisasi dalam menentukan kepemimpinan PBNU periode mendatang.
Pesan tersebut disampaikan Gus Yahya, sapaan KH Yahya Cholil Staquf, melalui video resmi yang diterima awak media menjelang agenda pemilihan Ketua Umum PBNU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Pemungutan suara dan penentuan kepemimpinan PBNU dijadwalkan berlangsung pada Minggu (30/8/2026) malam.
“Saya hanya ingin menitipkan satu pesan kepada Muktamirin. Mari kita pikirkan sungguh-sungguh, kita hayati sungguh-sungguh komitmen untuk memikirkan nasib Nahdlatul Ulama, masa depan Nahdlatul Ulama, kemaslahatan Nahdlatul Ulama di masa depan, lepas dari kepentingan apa pun selain itu,” tegas Gus Yahya dalam keterangannya. Di lansir Kompas.com
Gus Yahya menekankan agar proses penentuan kepemimpinan tidak diarahkan untuk memenuhi kepentingan pribadi ataupun kelompok tertentu. Menurut dia, kepentingan dan masa depan jam’iyah NU harus menjadi pertimbangan utama para muktamirin.
Sebagai petahana, Gus Yahya kembali berada dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Ia sebelumnya terpilih memimpin PBNU dalam Muktamar ke-34 NU yang digelar di Lampung.
Gus Yahya lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 16 Februari 1966. Ia merupakan putra ulama KH Cholil Bisri dan keponakan mantan Rais Aam PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus.
Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas telah berlangsung sejak 27 Agustus 2026. Forum tersebut kini memasuki tahapan penting berupa penentuan kepengurusan PBNU untuk periode berikutnya.
Pelaksanaan Muktamar ke-35 juga menjadi momentum penting bagi NU karena digelar setelah organisasi tersebut memasuki usia satu abad. Forum ini menjadi salah satu agenda strategis NU dalam menentukan arah organisasi pada abad kedua.
Dalam pelaksanaan pemilihan Ketua Umum PBNU kali ini, mekanisme yang digunakan berbeda dibandingkan muktamar sebelumnya. Tahap awal dilakukan melalui penjaringan bakal calon oleh seluruh peserta muktamar.
Setiap muktamirin dapat mengusulkan maksimal lima nama bakal calon Ketua Umum PBNU. Selanjutnya, lima nama dengan perolehan suara terbanyak akan diminta menyampaikan kesediaan mereka untuk maju, baik secara lisan maupun tertulis.
Nama-nama yang memenuhi tahapan tersebut kemudian diserahkan kepada Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Dewan tersebut terdiri dari sembilan kiai sepuh yang mendapat mandat untuk menjalankan musyawarah dalam proses penentuan kepemimpinan NU.
AHWA selanjutnya bermusyawarah untuk menentukan Ketua Umum PBNU. Keputusan yang dihasilkan melalui mekanisme tersebut menjadi keputusan final dalam proses pemilihan kepemimpinan PBNU.
Gus Yahya sebelumnya menyampaikan rasa syukur atas berlangsungnya Muktamar ke-35 NU yang berjalan hingga memasuki tahapan penentuan kepemimpinan organisasi.
Muktamar ke-35 NU diharapkan menjadi momentum konsolidasi bagi warga Nahdliyin sekaligus menentukan arah perjalanan organisasi pada masa mendatang.

