Prabowo Sebut Muhaimin, Dasco, dan Bahlil “Tiga Kancil”, Candaan yang Jadi Sorotan Publik

Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan yang menyita perhatian saat menghadiri Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (23/7/2026) malam.

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, dan Ketua Umum Partai Golkar yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebagai “tiga kancil”. Di kutip dari kompas.com

Candaan tersebut langsung disambut gelak tawa para tamu undangan. Prabowo bahkan berkelakar bahwa jika ketiga tokoh itu berkumpul dalam satu meja, suasana bisa menjadi “repot”.

Ucapan itu kemudian ramai diperbincangkan karena dinilai menggambarkan kedekatan sekaligus kelincahan politik tiga figur yang saat ini berada di lingkaran pemerintahan.

Dalam tradisi cerita rakyat Indonesia, kancil dikenal sebagai sosok yang mampu keluar dari berbagai persoalan berkat kecerdikan, bukan kekuatan fisik.

Tokoh tersebut kerap digambarkan mampu mengatasi lawan yang lebih besar melalui kecakapan membaca situasi dan memanfaatkan strategi yang tepat.

Penyebutan istilah “tiga kancil” pun dipandang sebagai metafora terhadap kemampuan politik para elite tersebut dalam membangun komunikasi, melakukan negosiasi, serta menjaga keseimbangan kepentingan di tengah dinamika koalisi pemerintahan.

Di sisi lain, candaan Presiden juga memunculkan kembali pembahasan mengenai konfigurasi politik nasional setelah Pemilu 2024.

Pemerintahan Prabowo saat ini didukung mayoritas partai politik di parlemen sehingga membentuk koalisi besar yang memiliki kekuatan dominan dalam proses legislasi maupun pengambilan kebijakan.

Sejumlah pengamat sebelumnya menilai model koalisi seperti ini memberikan keuntungan berupa stabilitas politik dan mempercepat pembahasan berbagai agenda pemerintahan karena dukungan di DPR relatif solid.

Namun, konfigurasi tersebut juga memunculkan diskusi mengenai efektivitas mekanisme checks and balances dalam sistem demokrasi. Kondisi itu semakin mengemuka setelah PDI Perjuangan, yang sempat diproyeksikan menjadi kekuatan penyeimbang, memilih tidak bergabung ke kabinet sekaligus tidak mengambil posisi sebagai oposisi secara formal.

Dengan komposisi politik tersebut, ruang kompetisi di parlemen dinilai menjadi lebih terbatas karena sebagian besar partai berada dalam satu poros pemerintahan.

Meski demikian, di sisi lain, pola politik akomodasi dianggap mampu menjaga stabilitas nasional dan meminimalkan potensi kebuntuan dalam sistem presidensial multipartai.

Candaan Prabowo mengenai “tiga kancil” akhirnya tidak hanya dipandang sebagai selingan di tengah perayaan Harlah PKB, tetapi juga menjadi simbol yang memantik pembahasan lebih luas mengenai dinamika elite politik, pola koalisi pemerintahan, serta arah demokrasi Indonesia di tengah dominasi koalisi besar.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kunjungi Media Sosial Kami

440PengikutMengikuti
2,430PelangganBerlangganan

Latest Articles