37 Tahun Jadi Buruh Pengupas Bawang di Pasar Legi Solo, Sukinem Bertahan dengan Upah Rp600 per Kg

Nusavoxmedia.id – Aktivitas perdagangan di Pasar Legi, Kota Solo, Jawa Tengah, sudah berlangsung sejak pagi. Di lantai 1 pasar, tumpukan karung bawang memenuhi sejumlah sudut, sementara para buruh perempuan sibuk mengupas bawang untuk mendapatkan upah harian.

Salah satunya Sukinem (47), warga Kabupaten Karanganyar, yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari pekerjaan sebagai buruh pengupas bawang di Pasar Legi.

Selama 37 tahun, pekerjaan tersebut dijalani Sukinem untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia menjadi ibu sekaligus kepala keluarga setelah suaminya meninggal dunia pada 2016.

Setiap hari, Sukinem berangkat ke Pasar Legi sekitar pukul 07.30 WIB. Dengan pisau kecil dan tangan kosong, ia mengupas bawang satu per satu hingga pekerjaannya selesai sekitar pukul 15.00 WIB.

Upah yang diterima Sukinem dihitung berdasarkan jumlah bawang yang berhasil dikupas. Dalam sehari, penghasilannya tidak selalu sama karena bergantung pada banyaknya bawang yang tersedia untuk dikerjakan.

“Upahnya Rp 600 per kilogram. Satu karung ya Rp 10.000. Satu karung itu 20 kilogram,” ujar Sukinem, Selasa (18/8/2026). Di kutip dari kompas.com

Ia mengatakan, pendapatan yang diperoleh dalam sehari biasanya berkisar Rp 35.000 hingga Rp 40.000. Namun, pada hari tertentu, penghasilannya bisa lebih rendah maupun lebih tinggi.

“Bayarannya ya kadang kadang murah, kadang enggak. Ya dapat Rp 30.000, Rp 40.000 sudah banyak itu. Bersyukur, disyukuri.

Rp 50.000 itu kemarin,” ujar Sukinem. “Seringnya Rp 35.000, Rp 40.000. Kan namanya borongan, ya tinggal tangannya. Kadang sedikit, kadang banyak gitu toh,” imbuhnya.

Sukinem mengaku sudah terbiasa mengupas bawang sejak tamat sekolah dasar (SD). Keterbatasan pendidikan membuat pilihan pekerjaannya tidak banyak.

Bahkan, ijazah SD yang menjadi satu-satunya bukti pendidikan yang dimilikinya kini sudah tidak ada. Kondisi tersebut membuat Sukinem kesulitan mencari pekerjaan lain.

“Enggak diterima. Terus ya karena bakat mungkin. Bakate udah kayak gini ya disyukuri aja. Apalagi sampai sekarang kan sudah tua. Umure sudah tua toh ini.” “Disyukuri, dinikmati tinggal anak yang bekerja.

Saya ya cuma ikut ikut. Biar enggak kekurangan ekonomi, kekurangan ekonomi,” tutur Sukinem.

Sukinem mulai bekerja sebagai buruh pengupas bawang setelah mendapat informasi dari sejumlah kenalan. Sebelum menetap sebagai pengupas, ia juga pernah menjalani pekerjaan lain di sekitar pasar, termasuk mengangkut bawang merah.

Pengalamannya bekerja di pasar membuat Sukinem terus bertahan hingga sekarang. Ia masih mengandalkan pekerjaan tersebut meski upah yang diterima bergantung pada jumlah bawang yang dikerjakan.

“Ya awalnya ya cari-cari kerja. Terus terus banyak ada yang kenalan, terus disuruh bekerja di sini. Banyak yang kenalan. Dulu ya pernah gendong brambang (bawang merah).”

Menurut Sukinem, bawang yang selesai dikupas kemudian ditimbang sebelum dibawa ke bagian depan pasar untuk dijual.

“Lah ini kan kupas sehari kan ya nanti ditimbang dulu terus digendong dibawa ke sana, dibawa di depan buat dijual,” terangnya.

Selama puluhan tahun bekerja, Sukinem menyaksikan perubahan upah yang diterimanya. Jika dahulu bayaran yang diterima hanya sekitar Rp 50 per kilogram, nominal tersebut kemudian meningkat menjadi Rp 75, Rp 500, hingga kini Rp 600 per kilogram.

Bagi Sukinem, pekerjaan tersebut bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi cara untuk tetap memenuhi kebutuhan hidup di tengah keterbatasan pilihan pekerjaan. Ia memilih menjalani pekerjaannya dengan menerima penghasilan yang didapat setiap hari.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Kunjungi Media Sosial Kami

440PengikutMengikuti
2,430PelangganBerlangganan

Latest Articles